Jumat, 04 Maret 2011


Perfilman Indonesia memang sedang kacau. Banyak film-film kontroversial yang mengedepankan sisi komersial semata. Ditambah diboikotnya film Hollywood lantaran bea pajak yang naik. Semua serba memusingkan. Masyarakat negeri ini dipaksa puas nonton film “Horrok” alias Horor-Jorok yang seakan-akan hanya mengeksploitasi tubuh si wanita yang tidak merasa kalau sudah diekspoitasi. Penikmat dibuat kagum dengan kemolekan dan dibius melalui soundtrack yang menggairahkan.
Namun demikian masih lekat juga sentuhan dari Laskar Pelangi yang begitu menyentak dengan situasi pendidikan pribumi, yang sempat membuat penontonnya menitikkan air mata (termasuk saya..hikss). Sebuah film garapan sutradara kondang yang mampu meraih simpati dan semangat peserta didik di negeri ini. Prestasi ini juga dilanjutkan dengan prestasi gemilang film lainnya yang punya muatan pendidikan, cinta, dan agama. Mungkin tidak perlu saya sebutkan sepertinya pembaca sudah tahu beberapa diantaranya. Seiring dengan kesuksesannya, maka merambah dunia sinetron di layr kaca agar pemirsa selalu mengingat kesuksesan cerita film tersebut, meskipun kini juga menjadi ajang komersialisasi sebuah pendidikan atau dakwah didalamnya. Akan lebih baik jika semua mendapatkan masukan dan saran dari penikmatnya, sehingga unsure pendidikan dan dakwah yang disampaikan tidak hanya menjadi bahan tontonan yang dalam kehidupan nyata justru menjadi bahan tertawaan.
Beda cerita lagi kalau sudah di layar kaca, karena akan didominasi dengan wajah ganteng dan cantik aduhai khas tokoh baru. Bikin betah deh,.hehe. ditambah dengan acting mellow-mellow yang menaik-turunkan emosi. Tapi wacana yang begini ini yang membuat pemirsa tajam emosi di dunia nyata. Hampir karena rating yang begitu tinggi, sehingga cerita dibuat panjaang..layaknya kemidi putar yang nggak dapet-dapet ujungnya. Sekaligus memicu emosi penontonnya, melemahkan cara-cara cerdik yang seharusnya bisa dilakukan di dunia nyata, tapi menjadi teramat bodoh jika sudah masuk sinetron. Misalnya saja, adegan di culik, kalau ingin mencari tidak dengan handphone, kok malah Cuma lari dan teriak-teriak. Serba nggak masuk akal memang, bikin geregetan, tapi ya namanya juga bohongan, sudah di atur sama sutradaranya. Hahaha.
“Segalanya telah ku berikan,, tapi kau tak pernah ada pengertian….” Atau “Cukup sudah kau sakiti aku lagi..” hehehe. Pasti sudah tak asing lagi dari sinetron apa. Memiliki rting tinggi yang membuat cerita menjadi makin tidak berbobot, benar-benar lemah otak. Tapi selalu bisa memikat perasaan wanita yang memang cara berpikirnya mendahulukan perasaan. Biang inspirasi ranah percintaan, menjadi pembanding dalam kehidupan.
Dari sisi psikologis, cerita dan karakter pemain dalam sebuah sinetron merupakan cerminan dari kehidupan nyata. Namun, terkadang isi manipulasi dari kisahnya diambil untuk dilakukan dalam kehidupan nyata. Permainan uang yang selalu terjadi di pengadilan ketika ada sebuah kasus yang menjerat orang kaya, manipulasi barang bukti, ulah pengacara yang menggunakan berbagai cara memenangkan kliennya, perbedaan perlakuan bagi yang punya uang dan yang tak beruang, si kaya yang meremehkan si miskin, menunjukkan bahwa tingginya kesenjangan antara dua status ekonomi di negara ini amat kentara. Jadi ingat lagu Andai Aku Gayus Tambunan yang sempat populer beberapa waktu lalu, hehe. Selain itu pengulasan alur begitu berbeda jika dibandingkan dengan suguhan peran era 1990-1998. Di sana tokoh protagonis dominan dalam alurnya. Selalu ada amanat pula mengenai setiap episodnya. Akan tetapi, kemajuan zaman lebih mengarakan pada kekerasan dan budaya kebarat-baratan. Pada akhirnya hal itulah yang dijadikan dominan pada sebuah sinema.
Namun demikian, kemampuan kreativitas manusia saat ini begitu besar karena setiap tahun semakin banyak orang pandai yang menciptakan karya. Yang terpenting adalah penghargaaan sebuah karya yang mendidik dari buah pikiran anak bangsa, bukan sesuatu yang komersial dan kontroversial kehadirannya. Sehingga akan menumbuhkan rasa saling menghargai karya dalam kategori yang benar-benar bermutu dan kategori bersenang-senang. Sukses terus untuk daya pikir.
Posted by happy On 8:55 AM No comments READ FULL POST

Minggu, 13 Februari 2011


Sebelum manusia ada, alam semesta telah diciptakan Tuhan terlebih dahulu. Itu artinya usia alam termasuk bumi seisinya lebih tua berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar tahun daripada manusia. Manusia hadir dengan keajaiban penciptaanNya, yaitu kecerdasan yang bisa digunakan untuk mengelola alam yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dahulu ketika belum banyak penemuan-penemuan, alam yang tersedia masih begitu sejuk dan asri. Kita masih mendapat sejuknya udara dipagi hari, hangatnya mentari di siang hari, udara malam yang tidak begitu menusuk, nelayan yang melaut dengan angin darat dan gelombang yang tenang, ikan pun berlimpah, dataran tinggi penuh pohon yang lebat. Itulah wujud kekayaan Indonesia yang agung dan ketika itu alam masih mampu menjaga keseimbangannya. Apalagi di pedesaan dan pegunungan merupakan surga untuk tanaman dan berbagai hasil bumi. Sehingga membuat penduduknya merasa betah dan tetap bisa hidup sehat lagi bugar mencapai usia yang begitu tua.
Akan tetapi dalam kurun waktu yang berjalan, tentu bumi mengalami perubahan struktur. Misalnya saja ketika sebuah gunung berapi, Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883 kemudian meletus lagi setelah kurang lebih 200 tahun. Kini diperkirakan dari 83 gunung api di Indonesia yang masih aktif, ada sekitar 8 gunung yang berstatus “waspada”. Tentu kita juga masih ingat tentang peristwa tsunami Desember 2004 yang tak pernah terpikirkan bakal terjadi di negara ini. Sehingga menyebabkan kemampuan bumi menjaga keseimbangan ekosistem semakin menurun karena tidak diikuti oleh penghuninya yaitu manusia, yang mengeksploitasi potensi sumber daya alam besar-besaran tanpa menghemat untuk keperluan anak cucunya di masa datang.

Kita bandingkan saja, dulu Indonesia dijuluki sepertiga dari paru-paru dunia, karena memiliki hutan tropis yang sangat besar (183 juta hektar). Namun, demi memperkaya diri, manusia dengan ketamakannya mengambil hasil hutan dengan melakukan penebangan liar hingga membuat 101,73 ha atau sekitar 72 persen [World Resource Institute, 1997] dari hutan Indonesia kini menjadi lahan yang gundul, yang menyebabkan banyak bencana jika musim penghujan datang. Udara perubahan juga semakin kita rasakan, dengan menipisnya atmosfer akibat tercemar berbagai gas berbahaya konsumsi dari manusia, seperti Freon, karbondioksida, karbonmonoksida, dan lain-lain yang berakibat pada global warming. Sejak dahulu juga telah ada peringatan untuk menyayangi alam, buanglah sampah pada tempatnya yang bertujuan agar hidup senatiasa makmur dan terhindar dari bencana. Akan tetapi slogan tersebut seakan hanya untuk ditempel atau didendangkan saja. Cuaca juga kian sulit untuk diprediksi, bahkan sepertinya pelajaran ilmu sosial di sekolah dasar mengenai dua musim di Indonesia saat ini menjadi samar karena telah kita rasakan juga selama kurang lebih satu tahun ini kita hanya merasakan adanya musim hujan yang terus menerus. Negara khatulistiwa kini diselimuti mendung kelabu menutupi sinar mentari.

Kita seringkali menyalahkan alam atas bencana yang menimpa manusia. Tampaknya alam sudah tidak lagi bersahabat dengan kita. Namun, sebenarnya jika kita kaji, siapakah yang tidak bersahabat itu? Manusialah sebenarnya yang sudah enggan bersahabat. Seorang sahabat tentu akan membiarkan sahabatnya tetap sejajar dan makmur seperti diri kita sendiri. Tapi yang terjadi, manusia cenderung mengambil keuntungan tanpa memikirkan nasib sahabat hidupnya dimana ia berpijak. Terbukti adanya eksploitasi seperti penambangan yang terus menerus menghambat pulihnya lahan, penggundulan hutan, mengaku bersahabat dengan hewan, tetapi memancing ikan hanya untuk berfoto, padahal kita tahu kail yang mengenainya akan menyakitkannya jika kembali dilepas, mengambil burung langka dari perburuan untuk dipelihara sendiri atau yang lebih keji adalah dengan menjadikannya pajangan di rumah, mengkonsumsi yang tidak selayaknya seperti penyu, dll yang semuanya hanya sebagai pemuas nafsu manusia. Manusia juga mengaku sebagai hamba dari sang pencipta, tapi malah menjadikan alam sebagai penentu makmur tidaknya hidup manusia. Hal ini dilihat dari perbuatan manusia memberikan sedekah bumi. Padahal bumi ini sudah kaya, dan siapa yang menjadikan kaya? Dialah Tuhan Sang Maha Kaya, Maha Pemurah. Manusia tidak menganggap alam sebagai sahabat, karena ia mengharap sesuatu saja dari alam untuk kepentingannya sendiri, seakan alam itu tercipta sendiri untuk dihabiskan manusia. Banyak fenomena alam baru yang membuat manusia berpikir alam berlaku seenaknya sendiri tak terkendali tanpa ada yang mencipta. Seakan mengikis keesaan Tuhan Yang Maha Penguasa.
Realita yang lebih sempit sajalah, anak kecil dengan santainya membuang bungkus makanan ke selokan atau sungai, padahal jarak tempat sampah hanya beberapa meter saja. Orang membakar sampah didekat pepohonan yang bisa saja terbakar, selain itu juga membuat polusi di udara yang dihirup pepohonan dan manusia lain, petugas kehutanan yang merokok membuang puntung yang masih menyala di tengah lahan yang mudah tebakar, program radiasi gelombang elektromagnet yang mengganggu daya tarik bumi, pengoplosan yang marak dilakukan manusia untuk membuat pestisida atau makanan dan lainnya sebagai tanda ketidaksetiaannya pada sahabat yang senantiasa mendampingi hidup generasi manusia.
Oleh sebab itulah alam menjadi terlalu sakit dan terbatuk-batuk tak tahan disakiti manusia yang mengaku sebagai sahabat alam. Sedangkan dalam keadaan seperti ini masih saja manusia tidak lekas sadar untuk kembali mengingat siapa sebenarnya yang memiliki kekuasaan untuk mengubah situasi yang sudah runyam ini. Alam adalah ciptaan Tuhan, jika kita bersalah telah menyiakan alam, itu artinya kita juga bersalah pada Tuhan, kita telah jauh dari Tuhan dan hukum-hukumnya, maka kita pun diberikan kesempatan untuk merasakan kembali bahwa Tuhan itu dekat, untuk segera kembali ke jalan yang lurus dan sadar, semua nikmat dari alam adalah karunia Tuhan. Tuhan, berikan kami kesempatan untuk menjadi sahabat yang baik bagi alam. Amiin..

Sumber Gambar:

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/11/04/data-dan-fakta-kontrak-freeport/
http://erwini.wordpress.com/2008/11/17/upacara-sedekah-laut/
http://kang-adek.blogspot.com/2008/12/negara-memimpin-perusakan-ibu-pertiwi.html



Posted by happy On 4:42 PM No comments READ FULL POST

Kamis, 03 Februari 2011

Setiap yang tampak tak tentu menjadi indah,
tapi segala yang tak tampak selalu mengajarkan kita untuk berpikir atas kebesaran Nya.
Apa yang di sebut kasih sayang tak selalu diungkap,
apa yang dicinta kadang terlewat,
namun ketika yang tak tampak membuat resah, dan seandainya kita tahu, dengan mengungkap kasih pada saudara kita, orang yang kita sayangi, orangtua, teman, maka doa malaikat mengarahkan kita pada cinta Nya.


Aku mencintaimu ibu, ayah, kakak, saudaraku, dan teman-temanku semua.

Posted by happy On 10:07 AM No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Labels

Blogger news

Categories