Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 April 2017

Psikologi dan Romantisme Suami Istri
Ustadz dr. Raehanul Bahraen
poster iklannya yang dikirim teman lewat WA


Kajian ini, awalnya dari info teman, saking penasarannya dengan beliau pembicara, maka maulah aku diajak mengikuti kajiannya, lagipula judulnya menarik sekali.
Sesampai di sana, bagiaan akhwat sudah cukup penuh. tentulah setelah mendapat konsumsi, kami diminta merapatkan shaf agar peserta lain bisa mendapatkan tempat juga. Sayangnya di sana diberikan hijab antara jama'ah laki-laki dan perempuan, sehingga jama'ah perempuan tidak bisa melihat wajah sang pembicara.. yach sedikit kecewa sih..Hehehe. lalu acara dimulai lah dengan pembukaan dari moderator yang lalu disambung oleh sang narasumber ustadz dr Raehanul Bahraen.

Beliau langsung membahas tentang psikologi suami istri, hal itu berkaitan dengan cara-cara memahami satu sama lain. Akan tetapi, memahaminya ialah dengan syariat, menjadikan pedoman dan motivasi dari shiroh nabi, bukan dari artis, orang nasrani, dll. Padahal dalam Islam sudah dijelaskan dan dibahas sedetail mungkin.

Dikatakan oleh sahabat bahwa: Kehinaan tidak akan dicabut sampai kita kembali ke agama Islam
Ustadz Raehanul mengatakan bahwa, jika ditanya mata kuliah yang wajib ada dalam perkuliahan, beliau menjawab bahwa seharusnya mata kuliah tersebut adalah ilmu membina rumah tangga dan ilmu mendidik anak. Hal itu disebabkan karena amat pentingnya ilmu membangun rumah tangga dan ilmu mendidik anak untuk kelangsungan generasi Islam.

Rumah tangga adalah perwakilan dari masyarakat. Perceraian adalah prestasi terbesar besar yg dicapai oleh setan. Tujuannya adalah merusak anak2 korban perceraian tsb, ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, karena telah merusak rumah tangga dan merusak anak2 korban perceraian.

Beliau menjelaskan pula tentang romantisme. Romantisme terwujud dengan kestabilan. Ternyata, kata beliau, Kunci kestabilan adalah terletak pada suami. Karena ia adalah pemimpin. Ia akan ditanya tentang dirinya dan keluarganya. Lelaki jadi pemimpin karena punya kelebihan daripada wanita, yaitu lebih Tenang sabar dan logis (tenang pikiran/logikanya). Sementara wanita lebih mengandalkan perasaan karena sejatinya ia adalah tulang rusuk yg bengkok. Maka dari itu suami haruslah tegas tetapi juga lembut.

Pernah suatu ketika 8 istri Rasulullah tdk patuh yaitu minta kenaikan uang belanja, telah dijelaskan dan dinasehati tapi tetap marah dan menuntut, maka Rasulullah mengalah dan menjauhi istri2nya, mengasingkan diri di kandang kambing selama sebulan sehingga para istri menyadari akibatnya jika berkepanjangan. Akhlak bagus dari seorang suami adalah bersabar dgn bengkoknya kesalahan istri.
Ketika Aisyah marah karena suatu hal, Rasulullah membiarkan Aisyah marah lalu memeluknya dengan cinta.
Heliau juga menjelaskan bahwa Menikah berarti memisahkan, memisahkan istri dari orang-orang yg menyayanginya, Maka suami harus memenuhi semua itu dalam satu dekapan sebagai ganti orang yang menyayanginya itu.

Kemudian ketika beliau berbicara tentang mengapa Wanita adalah kebanyakan penghuni neraka, beliau menjawab berdasarkan hadits nabi ketika Rasulullah ditampakkan oleh malaikat tentang neraka, bahwasanya wanita menjadi kebanyakan penghuni neraka adalah karena sifat dasar istri berpotensi mengingkari kebaikan suami.

Menurut psikologi, Kadang sifat dasar perempuan adalah mematuhi orang yang bisa membuatnya menangis --haru, baper-- sehari/ sekali, namun dengan mudah melupakan (tidak patuh/ mengingkari) pada orang yang membuatnya tertawa setiap hari.
Contoh: seorang anak perempuan klepek-klepek dengan laki-laki yqng berkorban memberi hadiah dan lebih menurutinya, daripada menuruti orang tuanya walaupun sama2 pernah bahkan sering memberinya hadiah.

Begitu juga dengan seorang istri, seringkali mengingkari nikmat dari suami karena terkena dengan suatu hal dari orang lain.
Maka saat istri marah hendaknya suami minta maaf, saling memaafkan, karena sangat sulit untuk membuat wanita minta maaf, begitu kata ustadz penceramah.

Jam sudah hampir menunjukkan waktu pukul 11. 00, ustadz melanjutkan pembahasan tentang Wanita penghuni surga, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Wanita yang lembut
2. Wanita yang banyak anaknya
3. Tidak gengsi (ustadz memberi gambaran sesuai hadits, ketika suami tidak ridho, istri tidak gengsi minta maaf, dan mengatakan dengan pengibaratan: ini tanganku di atas tanganmu, dan mataku tidak bisa terpejam sebelum engkau Ridho) #baru pertama denger dan rasanya mak dheg, meleleh haru hiks--

Bahasan terakhir sebelum sesi tanya-jawab adalah tentang Romantisme dalam rumah tangga, yaitu seperti:
1. Saling bantu dalam kebaikan
2. Suami membangunkan sholat malam
3. Suami bekerja keras mencari nafkah

Karena memang hidup tidak selalu indah seperti di FTV, dan keluarga yang membentuk generasi Islam yang kuat tidak berawal dari candaan yang sia-sia, tidak setiap lelaki bisa merangkai kata, menyanyikan lagu, bermesra seperti yang dibayangkan, maka dengan romantisme dalam ketaatan, tentulah akan membuat rumah tangga menjadi langgeng dengan tujuan meraih ridho Allah. Insyaa Allah.

Begitulah, sesi ceramah dari ustadz dr. Raehanul Bahraen, sangat berkesan walaupun sebentar. Semoga bisa saling memahami untuk meraih ridho Allah, kelak ketika telah dipersatukan dengan jodohku nanti, Aamiin.
😊😍
Posted by happy On 2:12 PM No comments READ FULL POST

Jumat, 22 Januari 2016

Memprihatinkan sekali memang apabila kita mendegar kabar tentang pergaulan muda-mudi jaman sekarang. Dikatakan semakin modern, iya, dengan adanya teknologi super canggih yang bisa menghubungkan informasi dengan cepat. Meningkatnya rasa percaya diri terhadap lawan jenis, tayangan-tayangan televisi yang mengumbar bebas pergaulan lawan jenis, semua terlihat bebas dan tanpa batas. Namun, seiring hal itu, terjadi pula kemunduran moral mental dan terkikisnya nilai ketimuran dari bangsa. Sehingga kita bisa melihat banyak terjadi pelecehan seksual, hamil diluar nikah, aborsi, bahkan bunuh diri.
Kehidupan masa muda yang begitu menarik, akan sangat sayang jika dilewati dengan hal-hal yang merugikan. Dari ceramah Da'i sejuta umat KH. Zainuddin M.Z., saya mencoba menginterpretasi isi kandungannya, yang membahas mengenai bahaya seks bebas. Mari kita simak, mudah-mudahan memberi wawasan untuk kita dan para remaja.

Penyebab keajahatan biasanya 3:
1.      Kosong iman, paling bahaya. Free sex, penyimpangan seksual bisa karena kosong iman, yaitu memperturutkan hawa nafsu.
2.      Kosong kantong; tidak ada kegiatan.
3.      Kosong perut (lapar, miskin)
Jika ketiganya kosong, maka tidak ada rem dalam kehidupan ini.
Perkawinan lebih memelihara diri dan pandangan. Sesuatu yang didapatkan denganjalan halal, menikmatinya dengan nikmat. Sebaliknya jika sesuatu didapat dengan jalan yang tidak benar/ halal, maka menikmatinya akan resah, tidak tenang.

Akibat dari pergaulan bebas, penyimpangan seksual, tinggal dan hidup berdua dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan, adalah:
1.      Hilangnya ketentraman dalam hidup.
Mungkin orang lain tidak tahu, hansip tidak melihat, orang tua bisa dibohongi. Tapi ketentraman, akan hilang terganti dengan was-was, perasaan bersalah, apalagi jika yang hilang adalah hal yang sangat berharga; keperawanan misalnya. Hidup akan menjadi gundah, awalnya memang tidak terasa, semua indah dan tampak menjanjikan. Si gadis gelisah, si pria pun akan resah. Sehingga hari-hari dilalui dengan banyak termenung, bingung, lidah mau bicara kelu, diri mau keluarpun malu. Sudah berapa banyak anak-anak yang tidak tau harus pada siapa dia memanggil ayah karena tidak tau siapa ayahnya, mungkin akan merendahkan sendiri harga diri pada manusia (pelaku).
2.      Terjangkitnya penyakit kelamin.
Alat kontrasepsi jika disalahgunakan akan menimbulkan bahaya, infeksi, penyakit, dsb. Atau mungkin karena sering melakukan seks bebas/ orgasme/ ejakulasi sebelum pernikahan, akibatnya kelamin menjadi rusak, sehingga mengganggu keharmonisan rumah tangga jika sudah menikah kelak.
3.      Mengganggu kelangsungan keturunan
Alangkah kejamnya jika perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang tua, menghasilkan anak, diwariskan kepada anak yang tidak berdosa, dan mereka harus menanggung
4.      Memperturutkan hawa nafsu
Jika sudah melakukan hubungan seksual maka akan ketagihan. Ibarat bayi yang lebih dari 2 tahun tidak disapih maka ia bisa akan kecanduan menyusu ibunya. Memperturutkan hawa nafsu dengan mengorbankan ekonomi, minimal ekonomi pribadi, keluarga.
5.      Membawa kehancuran karir
Dari jaman dulu, sudah banyak cerita bahwa pemimpin besar yang kuat takluk karena wanita. Maka janganlah mengorbankan diri sendiri, karir, keluarga, hanya karena terjatuh dan kecanduan pada perilaku seks bebas. Apabila sudah terlanjur, maka tidak ada kata terlambat untuk menarik diri, sehingga bisa memulai lembaran baru yang lebih baik.

Penyimpangan umum seks bebas:
1.      Masturbasi/onani — zina tangan, meskipun dosanya tidak sama dengan zina sesungguhnya, tapi ini tetap saja dosa, apalagi anggota tubuh lain juga men
2.    Menyalurkan insting seksual dengan makhluk sejenisnya – lesbian/homoseksual
3.      Eksibisionis – merasakan kepuasan setelah memamerkan tubuh/ anggota vital kepada orang lain. Jangankan memamerkan/memperlihatkan, melihat saja sudah termasuk perbuatan tidak baik.
4.      Masosisme / sadisme – memperoleh kepuasan dalam melakukan hubungan seksual dengan melakukan kekerasan
5.      Paedofilia – melakukan hubungan seksual dengan anak dibawah umur. Ini bisa disebut bapak moyangnya dosa. Karena selain zina sudah dosa besar, dilakukan dengan anak, bahkan mungkin anak kandung, sungguh perbuatan keji.

Pengendali
Tubuh ini ibarat kerajaan, dan yang merajainya adalah segumpal daging yang disebut hati, apabila hati baik, maka baik pulalalh segalanya, mata akan melihat yangbaik, mulut akan berkata yang baik, kaki akan berjalan ke tempat yang baik, dst. Untuk ingin berubah menjadi baik, maka penentunya adalah hati. Berbicara tentang hati, maka hubungannya dengan niat, niat kaitan erat dengan iman. Maka pengendali dari tindakan tercela dan keji adalah iman.
Hati—niat—iman(pengendali)
Posted by happy On 11:37 AM 2 comments READ FULL POST

Kamis, 01 Agustus 2013


Membangun Keluarga Qur’ani
Menjadi muslim yang sholeh dan sholehah adalah dambaan setiap umat Islam. Apalagi jika telah berkeluarga, semakin banyak tanggung jawab yang harus dilakukan demi membinanya. Masih dalam Dauroh Ilmiah yang membahas mengenai “Menghidupkan Al-Qur’an Dalam Keluarga” kali ini dengan pembicara Ustadz Abdul Hakim. Beliau mengatakan bahwa keluarga Qur’ani itu pasti bercita-cita mensholehkan keluarganya, tidak mau meninggalkan generasi sesudahnya menjadi generasi yang lemah (QS. An-Nisaa’: 9). Cita-cita Nabi Ibrahim terangkum dalam doa (QS. Al-Furqaan: 74), beliau tidak hanya mendoakan dirinya tetapi ada kata dzurriyati yang berarti seluruh garis keturunan sampai dengan terkhir. Begitu pedulinya terhadap generasi yang akan datang agar menjadi sholeh.

Menghidupkan Al-Qur’an Dalam Keluarga
Nah, kunci dari keluarga Qur’ani adalah menghidupkan Al-Qur’an dalam keluarga. Hmm, gimana caranya, ya? Ustadz Abdul Hakim menyebutkan beberapa tips, antara lain:
1.      Doa
2.      Ta’awun (saling tolong menolong) dalam ketaatan dan ketaqwaan. Dengan cara menumbuhkan interaksi intensif dengan Al-Qur’an, fokus, target, dan mutaba’ah.
3.      Memperjuangkan Qur’an dalam keluarganya dahulu sebelum kepada orang lain.

Untuk yang satu ini, perlu merembet ke arah tujuan berumah tangga. Diantara kita pasti punya tujuan masing-masing ketika memutuskan untuk berumah tangga, seperti mendapat keturunan, melepas masa lajang, menahan diri dari godaan maksiat. Namun, menurut Ustadz Abdul Hakim tujuan berumah tangga adalah:
1.      Dari sisi kemanusiaan adalah untuk saling cinta (jiyee..). setiap pasutri akan menumbuhkembangkan rasa cinta setelah menikah demi keharmonisan rumah tangga.
2.      Meningkatkan kedekatan dengan Allah Swt. Inilah yang paling pokok dari tujuan menikah, karena menikah baru separuh agama, maka untuk menyempurnakannya perlu dibina kedekatan kepada Allah dengan sarana keluarga.
3.      Membangun keinginan bersama. Kehidupan dalam keluarga membutuhkan persamaan tujuan agar dapat mencapainya, meskipun perbedaan juga dapat menumbuhkan warna serasa pelangi. Ketika salah satu ingin menjaga sholat malam, maka pasangan juga harus memiliki keinginan yang sama agar terwujud harmoni, apabila istri ingin menambah hafalan, suami hendaknya juga membersamai dalam kefokusan dan murojaah dengan istri. Sebaliknya, jika keadaan istri ingin bangun malam tetapi suami selalu marah, maka kemungkinan tercapainya kurang lancar jika dibanding dengan keinginan yang sama tumbuh dari kedua belah pihak.

Terkait dengan keluarga Qur’ani, menghafal Al-Qur’an itu bukan hanya sekedar tujuan. Memang, seorang yang hafal Qur’an itu adalah hidayah, akan tetapi untuk murojaah Qur’an itu adalah kemauan (jadi inget kata-kata teman yang saat ini lagi ujian tahfidzul Qur’an, hehe). Caranya:
1.      Intens belajar Qur’an
2.      Orang tua harus menjadi teladan bagi anak dan keluarga
3.      Istiqomah dan mengamalkan Qur’an dalam hidupnya
Demikian pesan yang disampaikan Ustadz Abdul Hakim pada kesempatan dauroh ilmiah Sabtu, 27 Juli 2013 di Aula SDIT Nur hIdayah Surakarta, semoga memotivasi setiap muslim untuk mau menghidupkan nuansa Qur’ani di keluarga dan hidupnya. Karena semuanya bukan hanya dari hidayah, melainkan kemauan dari diri kita.
Posted by happy On 1:45 PM No comments READ FULL POST

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, maka baik jika diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, sehingga menambah kedekatan kita pada Allah swt. Kegiatan bisa berupa acara pengajian, tilawah Al-Qur’an, tahfidzul Qur’an, mengajar mengaji, dauroh, dzikir, I’tikaf, buka bersama, dll.
 Nah, pada kesempatan menjelang liburan sekolah bulan Ramadhan, ada kegiatan Dauroh Ilmiah di SDIT Nur Hidayah yang menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya adalah Ustadz Susiyanto, M. Ag, Ustadz Abdul Hakim, dan seorang pemuda hafidz Qur’an bernama Muhammad Aufa Aulia. Apa sih dauroh itu? Dauroh dari kata daara-yaduuru-dauroh artinya mengelilingi, tempat, acara. Jadi, dauroh ilmiah artinya acara membahas tentang pengetahuan, keilmuan ilmiah.
  Sesi pertama diisi dengan pembahasan topik Rekonstruksi Sejarah Islam Indonesia.  Memang sedikit berbeda dengan topik yang ditulis dalam background acara, namun intinya ke arah rekonstruksi Islam dalam pembelajaran. Ini karena Ustadz Susiyanto akan menjelaskan mengenai konsep-konsep sejarah, narasi sejarah di Indonesia yang ditengarai ada upaya memarginalkan peran Islam dalam sejarah. Yuk simak beberapa hal yang bisa saya rangkum dalam dauroh itu.
  Kalau kita ingat dalam masa kecil kita, dongeng yang sering diperdengarkan pada murid-murid adalah dongeng Si Kancil Mencuri Ketimun. Inti dari dari dongeng ini bukannya menyuruh kita untuk menjadi licik atau pencuri. Akan tetapi mengajarkan kita untuk tidak menjadi orang bodoh karena akan dibodohi orang pintar. Nah dalam hal ini kancil saja dapat membodohi manusia, haha, cerdiknya. Ternyata dongeng ini juga ditulis lebih mendalam seperti pada Serat Kancil, bahkan dongeng ini terkenal di Melayu juga dengan judul Hikayat Si Kancil.
  Seperti halnya dongeng si kancil, dongeng Malin Kundang juga bukan berbicara tentang menjadi anak durhaka atau ibu yang jahat karena mengutuk anaknya menjadi batu, tetapi berpesan agar anak manusia tidak durhaka pada orang tua terutama ibu. Apabila kita pikirkan, dongeng memang tidak nyambung dengan fakta. Lain dengan sejarah, sejarah adalah kisah manusia yang benar terjadi di masa lalu.
  Jika diulas, sejarah dari bahasa arab Syajaro artinya pohon. Dalam bahasa Indonesia berarti silsilah; asal usul; kejadian yang benar terjadi di masa lalu; bermakna juga ilmu, pengetahuan, cerita atau riwayat di masaa lampau. Berbeda dengan kisah, karena kisah kurang memiliki nilai sejarah tinggi.
Pernah kita membaca sejarah yang disusun dari penyusun sekuler maka akan sulit dipahami. Perlu kita ketahui bahwa narasi sejarah tersusun berdasarkan:
1.      Data
2.      World view—kepentingan—misi
Misalnya sejarah yang disusun Kristen—ditampilkan lah Kristen
Seperti halnya pelajaran sejarah di Indonesia disusun atas kepentingan tertentu.

Pemisahan Islam dari Bangsa
Berbicara tentang sejarah, perlu kita ketahui bahwa selama ini telah terjadi upaya pemisahan Islam dari bangsa. Apa saja data yang kita punya?
1.      Identifikasi Dayak dan Papua sebagai Kristen. Perlu diketahui bahwa sejak penjajahan Belanda, suku Dayak dipisahkan (diasingkan) dari komunitas muslim dan orang Melayu, sehingga mereka tidak mengenal komunitasnya akibat pengasingan tersebut.
2.      Pengaburan status Betawi sebagai warga muslim. Komunitas Betawi sejak pra-pengIslaman, masa kerajaan Salakanagara terbentuk komunitas Betawi yang tidak diidentikkan dengan muslim tetapi Hinduisme.
3.      Pengaburan status bahwa suku Sunda itu muslim. Padahal di sana adat keIslaman kental tetapi seakan tertutupi.
4.      Penginjilan di Minang. Basis Islam yang kental di sumatera diinjilkan besar-besaran.

Distorsi
1.      Pengaburan identitas orang Indonesia sebagai penganut Islam
2.      Manipulasi karya sastra

Manfaat sejarah dengan cara pandang Islam
1.      Menguatkan akidah dan keyakinan terhadapa Islam. Karena banyak teladan dan komitemen berkaitan dengan Islam di masa lalu.
2.      Belajar sunnatullah. Ini sangat dianjurkan, dapat memperoleh pahala.
3.      Belajar masa depan. Dari sejarah dapat dipetik pelajaran masa kini dan mendatang.

Pelajaran sejarah di Indonesia
Bagaimana dengan pelajaran sejarah yang kita dapatkan di sekolah umum di Indonesia? Kebanyakan mengajarkan hal yang cukup sulit dinalar dengan akal sehat, terlebih lagi adalah sejarah yang dijelaskan mengandung unsur pemisahan Islam dalam sejarah di Indonesia. Mari kita bahas bebrapa diantaranya.
1.      Manusia purba
Manusia Indonesia yang hadir pada masa sebelum penjajahan sampai dengan sekarang adalah masyarakat yang berpindah-pindah, berasal dari keturunan Deutro Melayu dan Proto Melayu yang tidak sama dengan Pithecantropus Erectus yang sekarang di pajang di museum Sangiran. Dan mungkin akan banyak warga Jawa yang tidak setuju jika mereka disamakan dengan Pithecantropus Erectus
2.      Era Hindu dan Budha
Terdapat banyak manipulasi dalam era ini. Karena lebih banyak membahas mengenai apa agama Hindu dan agama Budha itu? Pembahasannya banyak yang normatif karena lebih kepada agama Hindu dan Budha pada zaman ini bukan zaman dahulu. Pada agama ini terdapat sistem kepercayaan yaitu Budha Shiwa aliran Bhairawa. Yang sangat terkenal adalah ritual ma lima. Jika di zaman sekarang kita kenal moh limo yang berarti dilarang makan daging haram, miras, main perempuan, dsb, akan tetapi ma lima di sini adalah mengerjakan lima ritual M, yang merupakan aplikasi perilaku dalam ajaran. Diantaranya Matsiya (ikan), Manuya (daging), Mada/Madya (miras), Mudra (gadis/tarian), Maithuna (upacara seksual). Nah, berikut penjelasannya.
1)      Matsiya (ikan), ini bukannya dilarang untuk memakan ikan, tetapi justru ritual makan ikan beracun. Dengan memakannya, akan muncul efek tubuh yang terkena racun, atau mabuk, sehingga dipercaya dapat menghilangkan kesadaran (jiwa kosong) yang dalam ketidaksadaran itu akan mendekatkan manusia dengan Tuhan (isi). Ini seperti yang sering kita dengar bahwa ada perkataaan kosong adalah isi, isi adalah kosong.
2)      Manuya (daging), sekali lagi bukan larangan memakan danging, tetapi ritual makan daging manusia. Daging yang dipersembahkan biasanya adalah pengantin, gadis atau pria lajang yang kemudian disembelih dan dimakan bersama-sama. Penyembelihan ini dlakukan di meja datar berbentuk kura-kura, karena pada masa itu kura-kura di anggap sebagai penjelmaan tertinggi dari Tuhan.
3)      Mada/Madya (miras), digunakan sebagai alat untuk menjadikan diri tidak sadar, mirip pernyataan pada ritual matsiya. Konon akibat ritual ini, pesohor kerajaan Hindu kalah dalam perang melawan serangan Belanda.
4)      Mudra (gadis/tarian), tarian atau gerakan tangan yang menimbulkan kekuatan magis yang membuat lupa diri.
5)      Maithuna (upacara seksual), dilakukan di sebuah padang di atas tempat pemakaman yang disebut setra. (Prof. Rasyidi, Islam dan Kebatinan, hal.94)

Upaya Perawatan Peninggalan Bersejarah

Mari kita cermati dengan adanya banyak peninggalan sejarah di Indonesia. Perawatan peninggalan Hindu Budha tidak sama dengan peniggalan Islam,yang notabene mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam.
Siapa yang tidak mengetahui Candi Borobudur di Magelang, yang merupakan salah satu dari keajaiban dunia. Candi borobudur ditemukan tahun 1814, dan pernah terkubur selama 8 abad. Ketika belum ditemukan, bentuk ini tak menyerupai candi melainkan sebuah gunung yang ditumbuhi pohon menjulang. Selama itu tidak ada yang menceritakan bahwa di sana ada sebuah bangunan megah tempat ibadah, dan baru timbul cerita setelah ditemukan.
Lain halnya dengan Candi Prambanan yang ditemukan tahun 1797 oleh Belanda yang pada saat itu akan membangun benteng dan mencari lokasi yang tak terawat dan menjadi tempat sampah. Jika pribumilah pemiliknya, tidak mungkin akan melakukan pembiaran tempat itu dijadikan tempat sampah dan tidak terawat. Ini berarti ada cerita baru di balik penemuan candi di Indonesia.
Beda dengan peninggalan Islam seperti Masjid Demak yang dibiarkan dimakan usia. Jika Anda pernah berkunjung ke sana, dapat ditemui sebagian besar bangunannya sudah tidak asli, yang asli hanyalah bagian pintu depan dan belakang, serta tiang-tiang penyangga. Hal ini disebabkan pengaburan identitas Islam dalam sejarah, yang membuat pola pikir, mengidentikkan bahwa kerjaan Islam adalah penghancur. Pada faktanya kerajaan Islam tidak pernah menghancurkan peninggalan yang ada kecuali alam yang memakannya. Bukti bahwa sebenarnya masyarakat pra kemerdekaan Indonesia adalah muslim yaitu ditemukannya peninggalan Majapahit berupa nisan yang lambangnya mirip dengan lambang Muhammadiyah pada saat ini, kemudian terdapat nisan bertuliskan Laa ilaha illallah terukir amat jelas. Untuk dapat melihatnya, silakan berkunjung ke Troloyo, Trowulan, Mojokerto.
Candi yang merupakan peninggalan masa Hindu Budha, dibangun untuk kepentingan kasta-kasta tinggi seperti Brahmana dan Ksatria, untuk menunjukkan seberapa besar kekuasaannya. Dalam candi terdapat relief yang berupa wujud lelaki yang berdiri membawa mangkuk dan belati yang menjelaskan bahwa pada era tersebut ada upacara minum darah, dengan menggunakan belati untuk menyayat darah dari ulu hati kemudia menyayta mengikuti tulang rusuk dan darahnya ditampung dalam pangkuk untuk diminum bersama-sama.
Perawatan patung kecil dapat menghabiskan anggaran tidak kurang dari Rp 5.000.000,00 per bulan, namun untuk sebuah masjid yang juga situs sejarah sangat disayangkan tidak mendapat perhatian yang seimbang.
Oleh karena itu terus digalakkan penggalinan agar ditemukan candi atau menyerupai candi baru sebagai situs sejarah baru. ini yang harus diwaspadai terutama umat Islam, karena para frontalis pernah ber statement bahwa penggalian ditujukan untuk mengombang-ambingkan antara memilih Islam atau kebudayaan sebelumnya.

Bhineka Tunggal Ika
Sebuah semboyan yang tidak asing lagi tentunya. Tentu kita akan memaknainya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Perlu diketahui bahwa semboyan ini memiliki arti lain, kita telaah dari kata  Bhi yang maknanya dua, Bhineka—dua hal yang berbeda, bukan berbeda-beda, dan yang dimaksud dua hal yang berbeda ini adalah Hindu dan Budha yang beda dalam pengajarannya tetapi keduanya tetap harus disatukan. Nah, sekarang jadi tau kan, akan tetapi dalam pelajaran sejarah kita yang sudah ada unsur pemarginalan Islam, kita dipaksa harus menulis jawaban yang benar dalam ujian lho, dengan pernyataan berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Jangan sampai kita sebagai penganut Islam terombang-ambing oleh hal yang abu-abu, bahkan menyingkirkan sejarah yang sesungguhnya. Kita harus rajin membaca riwayat yang sumber referensinya terpercaya, atau dari narasumber langsung, sehingga akan terungkap naskah sejarah yang asli dan tidak dimanipulasi untuk kepentingan tertentu sebgaian orang.

Posted by happy On 1:30 PM No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Labels

Blogger news

Categories